Beda Pendapat Dua Ulama Kondang Mengenai Balasan Bersedekah



Saat sedang menelusuri beranda Facebook, secara tidak sengaja menemukan tulisan yang sangat menarik yang diposting oleh salah satu akun pengguna Facebook. Saya rasa tulisan ini sangat bermanfaat dan membuat kita bisa berpikir lebih dalam untuk mengkaji sesuatu dan tidak menelannya secara mentah-mentah, sehingga kita tidak dengan mudah menyalahkan pendapat orang lain.

Tulisan di bawah ini mengenai perbedaan pendapat dua ulama’ kondang yang tentu kita semua sudah mengenal keduanya. Berikut isi dan penjelasan lengkapnya.

CAK NUN KRITIK YUSUF MANSUR: SEDEKAH TIDAK BOLEH MENGHARAP BALASAN

Dua ulama' kondang Indonesia, MH Ainun Najib dan Ust. Yusuf Mansur yang memiliki gaya dan pemikiran berbeda dalam berdakwah

Beberapa waktu lalu, banyak sekali SHARE di Facebook tentang kritikan Cak Nun kepada Ust. Yusuf Mansur.

Dengan menshare berita Kritik dari Cak Nun tersebut, Netizen banyak yang heboh dan dengan semangat mencaci maki metode Sedekah ala Ust. Yusuf Mansur.

Banyak yang hatinya penuh kedengkian, memanfaatkan berita ini untuk menjatuhkan kredibilitas dari Ust. Yusuf Mansur.

Banyak umat yang bingung, ini keduanya kan da'i, harus ngikut yang mana? Sama-sama kondangnya lagi.

================================================
Untuk memahami apa yang disampaikan oleh keduanya, maka kita juga harus tahu dulu, cara berpikir, atau pola pikir dari kedua ustadz/ulama kita tersebut.

Ustadz Yusuf Mansur berbicara dengan gaya yang sederhana. Pendengarnya rata-rata adalah orang yang masih sangat awam dengan agama islam, walaupun agama mereka Islam.

Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) sejak tahun 1998 saya sudah sangat kepincut dengan gaya berpikir dari beliau. Untuk memahami cara berpikirnya, tidak bisa hanya sekali dengar langsung bisa kita cerna. Kata-katanya dalam, harus dipikir ulang, baik dengan akal maupun hati. Kalimatnya sering kontroversial bagi yang belum mengenal cara berpikir beliau.

Nah, itu latar belakang cara berpikir beliau berdua.

Mari kita membahas lebih dalam lagi.
Di dalam ibadah seorang muslim, menurut ulama besar Abul Laitsi As Samarqand dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, dijelaskan, bahwa ibadah seorang muslim itu dibagi menjadi 3:
1. Al 'Umm (Umum)
Yaitu tingkatan ibadah yang sekedar menjalankan apa yang diperintahkan oleh Alloh SWT. Sekedar menggugurkan kewajiban.

2. Al Khawash (Pilihan/Khusus/Istimewa)
Yaitu tingkatan ibadah yang lebih khusus lagi, mereka menjalankan ibadah dan merealisasikan dalam perbuatan sehari-hari. Mereka menjaga anggota badan dari berbuat segala kemaksiatan.

3. Khawasil Khawas (Khusus dari yang khusus/istimewa dari yang istimewa)
Yaitu tingkatan ibadah yang khususnya khusus. Mereka adalah orang yang menjalankan ibadah, merealisasikan didalam perbuatan mereka sehari-hari, menjaga anggota badan dari segala kemaksiatan dan juga selaras dengan hatinya yang bersih dari keinginan maksiat, iri dan dengki.

Kebanyakan ummat ini, masih tergolong kepada tingkatan yang pertama, yaitu masih tergolong kepada golongan umum saja. Dan ini bukanlah sebuah kesalahan.

Sebab, dengan terus menjalankan kewajiban dengan baik, insya Alloh pada akhirnya Alloh akan membuka hati kita sehingga kita bisa beribadah menuju tingkatan yang lebih tinggi lagi. Bukankah sekolah saja ada tingkatannya? Asal belajar sungguh-sungguh, akhirnya bisa naik kelas juga?

Mari, kembali ke masalah CAK NUN dan Ust. YUSUF MASUR

Cak Nun mengatakan bahwa ketika bersedekah, tidak boleh kita mengharap balasan apapun. Bersedekah hanya niat saja karena Alloh. Sudah cukup. Kalau kita mengharap balasan, maka apa bedanya sedekah dengan berdagang/berniaga?

Alloh melarang setiap amal perbuatan yang ditujukan bukan karena Alloh SWT.

Sementara Ust. Yusuf Mansur mengatakan, dengan DALIL AL QUR'AN, "Man ja'a bil khasanati falahu 'asyru amtsaliha." (Barang siapa membawa 1 kebaikan, maka baginya balasan 10 kali lipat yang semisalnya).

Bahkan Alloh sendiri yang mengatakan bahwa Membaca Al Qur'an, Mendirikan Sholat dan Bersedekah adalah perniagaan dengan Alloh, sebagaimana di dalam firmanNYA:

" Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan MENAFKAHKAN SEBAGIAN DARI REZEKI yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan PERNIAGAAN yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (Q.S. Fathir: 29 – 30)

Terus mana yang benar?
Saya jawab: KEDUANYA BENAR

Bagaimana mungkin, pernyataan keduanya benar?

1. Yusuf Mansur berbicara kepada orang-orang awam yang pengatahuan agamanya masih kurang. Sementara Cak Nun memberikan tinjauan secara tasawuf.

2. Jika orang awam diberikan pemahaman secara tasawuf, bahwa sedekah harus langsung ikhlas, langsung hanya karena Alloh, tanpa mengharapkan balasan apapun dari Alloh SWT, maka mereka orang awam tidak akan dapat memahami maksudnya. Ikhlas saja mereka tidak tahu seperti apa bentuknya, rasanya, rupanya. Bagaimana mau ikhlas. Bisa jadi, orang akan malas bersedekah karena merasa belum bisa ikhlas. Belum bisa menata hati agar tidak mengharap balasan dari Alloh saja.

3. Yusuf Mansur memberikan penjelasan sederhana untuk orang awam, sehingga mampu dicerna akal pikiran mereka yang masih awam tentang agama. Yang penting, mau beramal shalih dulu, semoga dengan amal shalih mereka ini, pada akhirnya tingkat keimanannya akan meningkat sehingga pada akhirnya amal shalih yang terus menerus dilakukannya itu bisa ikhlas murni karena mengharap ridho Alloh semata.

4. Cak Nun benar dengan mengatakan, bahwa sedekah yang semata-mata mengharap balasan materi dari sedekah yang dikeluarkan, tidak diperbolehkan. Tinjauan tasawufnya: Karena orang tersebut berbuat bukan karena Alloh, tetapi karena mengharap imbalan. Jadi orang ini, acuh kepada Alloh, yang diharapkan setelah bersedekah adalah "Mana Imbalan 10x lipatnya dari Alloh". Orang ini orientasinya tetap duniawi, bukan ridho Alloh semata.

Jadi mau dikasih balasan atau tidak jika niat sudah karena Alloh, mereka tidak peduli, yang penting Alloh meridhoi.

5. Agar lebih jelas, saya berikan anda contoh tentang surga neraka, ditinjau secara tasawuf.

Banyak orang yang beribadah karena mengharapkan SURGA, dan karena mereka takut kepada NERAKA. 

Sejatinya, surga dan neraka adalah MAHKLUK yang Alloh SWT ciptakan. Sehingga ketika seseorang beribadah semata-mata karena ingin surga dan takut neraka, maka berarti ibadahnya bukan karena Alloh tetapi karena MAKHLUK (yaitu Surga dan Neraka).

Jika seseorang beribadah karena takut neraka dan karena kepingin surga, bukan karena kepingin ridho Alloh, maka berarti dia melakukan KESYIRIKAN, karena ibadahnya karena makhluk, bukan karena Alloh.

Jika orang beribadah karena mengharap Ridho Alloh SWT, maka mau dimasukkan neraka sekalipun, asal mendapat ridho Alloh, maka orang ini akan tetap ikhlas menerima.
Jika beribadah mengharap ridho Alloh semata, masuk surgapun orang ini tidak akan mau, jika masuk surga tetapi Alloh tidak ridho.

Kajian tasawuf ini harus dalam. Dalam logika pemikiran, memang benar bahwa ibadah harus mengharapkan ridho Alloh semata. Tetapi jika Alloh ridho, maka tidak mungkin juga Alloh akan memasukkan ke dalam neraka orang yang diridhoinya. Dan tidak mungkin juga Alloh tidak meridhoi orang yang masuk surga. BACA JUGA : Kata Cak Nun, Masuk Surga Itu Nggak Penting!Artinya?

Nah, kajian tasawuf ini membutuhkan ketenangan hati dan kebersihan pikiran untuk dapat memahaminya.

Jadi, CAK NUN BENAR secara TASAWUF, karena memang manusia harus beribadah hanya kepada dan karena Alloh semata.

Ust. YUSUF MANSUR BENAR karena beliau berbicara kepada orang awam/umum, yang belum mengerti tinjauan yang lebih dalam / lebih tinggi lagi tentang agama islam.

Dari ibadah kita yang masuk ke golongan Al 'Umm, semoga bisa meningkat menjadi Khawas, bahkan Khawasil khawas. Amiin YRA.

Mohon share, agar informasi ini bisa sampai kepada mereka yang pro dan kontra. Agar mereka tahu, bahwa ulama kita bukan sedang berselisih paham. Agar hilang kebencian dihati mereka kepada salah satu dari ulama kita ini.

Agar tidak ada pihak yang kembali memperkeruh suasana dengan membenturkan kedua ulama kita ini. Agar orang yang ingin memecah belah umat ini tidak bisa lagi berbicara.


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Beda Pendapat Dua Ulama Kondang Mengenai Balasan Bersedekah"